Skip to Content

Category Archives: destinasi

PESONA TIMUR LANGSA COUTRY FESTIVAL 2019

Langsa Country Festival 2019 yang baru di gelar untuk pertama kalinya ini, dimeriahkan oleh band-band Country dari Aceh dan Sumatera. Hutan Kota Langsa menjadi pilihan digelarnya festival ini. Pada 15 Desember 2019 menjadi hari yang bersejarah bagi Kota Langsa yang telah sukses menggelar acara musik beraliran Country. PT.Pekola sebagai Penyelenggara berharap, acara ini bisa menjadi agenda tahunan sebagai kalender event Disporapar Kota Langsa.

 

VIDEO LANGSA COUNTRY FESTIVAL 2019

READ MORE

Sejarah Singkat Kota Langsa

Dalam perspektif  “oral tradition”, Kata Langsa berasal dari pertikaian antara Kerajaan Elang dan Kerajaan Angsa dalam memperebutkan dan mempertahankan wilayah teritori guna memperoleh ikan,hingga terjadi peperangan sebanyak dua kali yang berakhir dengan gencatan senjata serta perundingan tersebut mereka namakan dengan nama “Langsar” atau elang besar dan kemudian menjadi kata Langsa pada saat ini.

Didalam “ arakatatarumbo” (sisilah keturunan Ulee Balang raja Negeri Langsa), pendiri Negeri Langsa adalah Datuk Alam Malelo yang konon masih berketurunan kerajaan pagaruyung Minangkabau Sumatra Barat. Yang di perikirakan hidup antara tahun 1700 M sampai dengan 1780 M. Datuk Alam Malelo dikenal juga dengan nama “Teuku Chik Keujruen Meulila” atau “Teuku Chik Keujruen Banang atau Datuk Banang alias “Datoe Dajang” oleh Belanda.

Pada masa kolonial Belanda hingga awal Kemerdekaan Indonesia,Langsa memiliki peran yang strategis sebagai penyedia barang-barang ekspor (barter) dan impor (khususnya peluru senjata bekas sekutu yang dijual murah disingapura). Dan dengan infrastrukturnya pada masa itu, Langsa merupakan salah satu kota dagang dan perniagaan sepanjang sejarah. (Sumber : menelusuri jejak sejarah Langsa edisi revisi, 2017)

Kota Langsa merupakan pemekaran dari kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa sebelumnya berstatus sebagai Kota Administratif (KOTIF) yang kemudian menjadi Kota Langsa. Landasan yuridis pembentukan Kota Langsa adalah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 yang diresmikan pada tanggal 21 juni 2001.

Kota Langsa memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut, sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Aceh Timur dan Selat Malaka, sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Aceh Tamiang, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur dan kabupaten Aceh Tamiang,sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur.

Secara administratif Kota Langsa terdiri dari 5 (lima) kecamatan yang terdiri dari : Kecamatan Langsa Kota, Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Timur, Kecamatan Langsa Baroe dan Kecamatan langsa Lama, yang membawahi sebanyak 66 (enam puluh enam) Gampong.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Langsa, Jumlah penduduk Kota Langsa tahun 2016 berjumlah 168.820 (seratus enam puluh delapan ribu, delapan ratus dua puluh) Jiwa, sementara pada Tahun 2017 berjumlah 171.574 (seratus tujuh puluh satu ribu, lima ratus tujuh puluh empat) jiwa, meningkat dengan tingkat pertumbuhan 1,73 % (satu koma tujuh puluh tiga persen).

Adapun sektor unggulan yang dimiliki oleh Kota Langsa adalah :

  1. Pariwisata,
  2. Perdagangan,perhotelan dan restoran,
  3. Industri, sektor pertanian tanaman pangan,
  4. Perikanan dan kelatuan, serta sektor perkebunan.

 

Sampai dengan saat ini, Pemerintahan Kota Langsa telah dipimpin oleh 7 (tujuh) Walikota dan 2 Wakil Walikota Langsa, yaitu :

  1. Periode 2001 sampai dengan Maret 2005,

Walikota Bapak Azhari Aziz, SH, MM

  1. Periode Maret sampai dengan Desember 2005,

Walikota Alm. Bapak Drs. H.Muhammad Yusuf Yahya

  1. Periode Desember 2005 sampai dengan Maret 2007,

Walikota Bapak Drs. Muchtar Ahmady, MBA

  1. Periode Maret 2007 sampai dengan Maret 2012,

Walikota Alm. Bapak Drs. Zulkifli Zainon, MM dan Wakil Walikota Bapak Drs. Saifuddin Razali, MM, M.pd

  1. Periode Maret sampai dengan Agustus 2012,

Pj. Walikota Bapak Drs.H.Bustami Usman, SH, M.Si

  1. Periode Agustus 2012 sampai dengan Agustus 2017,

Walikota Bapak Usman Abdullah, SE dan Wakil Walikota Bapak Dr.H.Marzuki Hamid, MM

  1. Periode Oktober 2016 sampai dengan Februari 2017,

Plt. Walikota Bapak Kamaruddin Andalah, S.Sos, M.Si

  1. Periode Agustus 2017 sampai dengan saat ini,

Walikota Bapak Usman Abdullah, SE dan Wakil Walikota Bapak Dr.H.Marzuki Hamid, MM

 

Sejalan dengan Visi Kota Langsa yaitu “Kota Langsa Sebagai Kota Jasa Yang Berperadaban Dan Islami”, Serta Misi Pembangunan Kota Langsa, maka ditetapkan Tujuan yang ingin dicapai pada Periode 2017 sampai dengan 2022 adalah sebagai berikut :

 

  1. Meningkatkan pelaksanaan syariat islam secara kaffah dengan lebih mendorong inisiatif dan partisipasi warga.
  2. Melanjutkan penataan birokrasi Pemerintah, sinkronisasi & harmonisasi kerja sama pembangunan yang lebih responsive, efektif, dan efesien, transparan serta akuntable yang berbasiskan smart city dalam rangka mendukung pelaksanaab e-goverment.
  3. Melanjutkan penataan kota untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, hijau, sehat, indah, dan nyaman.
  4. Meningkatkan kualitas pendidikan di semua tingkatan.
  5. Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat.
  6. Pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.
  7. Melanjutkan pembangunan infrastruktur guna mendukung percepatan pembangunan dan pengembangan wilayah.
  8. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi masyarakat.
  9. Mengembangkan olah raga, kesenian, dan kepemudaan.
  10. Memelihara serta meningkatkan keamanan, ketertiban umum dan stabilitas politik.

Sejak tahun 2012 hingga saat ini Kepemimpinan Walikota Langsa Bapak Usman Abdullah, SE dan Wakil Walikota Dr. H. Marzuki Hamid, MM (UMARA), Pemerintah              Kota Langsa telah meraih berbagai prestasi,yaitu diantaranya :

Tahun 2013

  • Juara II Kota Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi Tahun 2013.

 

Tahun 2014

  • Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), atas Keberhasilan Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2013 dengan Capaian penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Akuntansi dan pelaporan Keuangan Pemerintah;
  • Peringkat I Tingkat Nasional Pelaporan Rencana Aksi Daerah Penanggulangan dan Pencegahan Korupsi;
  • Peringkat I Tingkat Nasional Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Pemukiman;
  • Penghargaan Sertifikat Adipura Tingkat Nasional tahun 2014;
  • Juara II Adipura Tingkat Provinsi Tahun 2014;
  • Juara II Tingkat Nasional pada Kontes IGRA (Indonesia Green Region Award) tahun 2014;

 

Tahun 2015

  • Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), atas Keberhasilan Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2014 dengan Capaian penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Akuntansi dan pelaporan Keuangan Pemerintah;
  • Juara I Kota Bersih & Berwawasan Lingkungan Tingkat Provinsi Tahun 2015;
  • Juara I Adipura Tingkat Provinsi Aceh sebagai Kota sehat Lingkungan Hidup Se-Aceh;

 

Tahun 2016

  • Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), atas Keberhasilan Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2016 dengan Capaian penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Akuntansi dan pelaporan Keuangan Pemerintah;
  • Memperoleh Anugerah Piala Adipura Buana dari Presiden Republik Indonesia (RI) di Siak Provinsi Riau;
  • Memperoleh Anugerah Dana Rakca oleh Kementrian Keuangan Republik Indonesia (RI);
  • Juara Pertama Lomba Penanaman dan Pemeliharaan Pohon Tingkat Provinsi Aceh untuk tahun anggaran 2016;
  • Juara I pada perlombaan Menanam pohon tahun 2016 tingkat Nasional yang diselenggarakan di Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta;

 

Tahun 2017

  • Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), atas Keberhasilan Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2016 dengan Capaian penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Akuntansi dan pelaporan Keuangan Pemerintah;
  • Memperoleh Anugerah Pastika Parahita dari Kementrian Keseharan RI, atas keberhasilan Kota Langsa dalam penataan Peraturan Daerah (Qanun) Kawasan Tanpa Rokok (KTR);
  • Memperoleh penghargaan sebuah Anugerah Prof. A Majib Ibrahim, bahwa Kota Langsa sebagai pemerintahan terbaik dengan rencana Kerja tahun 2017;
  • Mendapatkan penghargaan / anugerah Kota Peduli Hak Asasi Manusia (HAM) dari Kementrian Hukum dan HAM Republik Indonesia;
  • Memperoleh penghargaan dari Presiden Republik Indonesia karena dianggap telah berhasil melakukan penghijauan;

 

Tahun 2018

  • Penghargaan Opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia (BPK RI), atas Keberhasilan Menyusun dan Menyajikan Laporan Keuangan Tahun 2017 dengan Capaian penilaian opini Wajar Tanpa Pengecualian dalam Akuntansi dan pelaporan Keuangan Pemerintah;
  • Meraih Penghargaan Adipura tingkat Provinsi Aceh kategori kota sehat tahun 2018;

 

 

 

READ MORE

Gedung Balee Juang, Landmark Ikonik Kota Langsa

Gedung Balee Juang, Landmark Ikonik Kota Langsa

Gedung Balee Juang merupakan gedung peninggalan Belanda yang terletak di Kota Langsa, gedung ini dulunya digunakan sebagai kantor perusahaan perkebunan dan sempat menjadi kantor Bappeda Aceh Timur

 .

 

Kota Langsa merupakan salah satu daerah yang menjadi saksi bisu atas kolonialisme Belanda di tanah Serambi Mekkah. Letak geografis Kota Langsa yang sangat strategis, serta berbatasan langsung dengan Selat Malaka membuat Belanda menjadikan kota ini sebagai basis pemerintahan khususnya di Aceh. Sisas-sisa sejarah tersebut kini masih bisa dilihat di Gedung Balee Juang Kota Langsa.Gedung Balee Juang merupakan bangunan peninggalan Belanda yang didirikan sekitar tahun 1920. Kini setelah Indonesia merdeka, gedung ini menjadi salah satu tempat wisata sejarah di Kota Langsa. Memiliki gaya arsitektur yang menarik khas Eropa, menjadikan daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Tak hanya itu, kisah sejarah yang melatar belakangi gedung ini juga menarik untuk disimak.

Gedung Balee Juang

Secara geografis, Gedung Balee Juang ini terletak pada persimpangan lampu merah Jalan Ahmad Yani, Kota Langsa, Provinsi Aceh. Berada di jantung Kota Langsa, yang sangat strategis membuat wisatawan sangat mudah untuk menemukan gedung ini. Gedung ini berada tepat didepan Kantor Pos Kota Langsa, serta tak jauh dari Taman Bambu Runcing.

Gedung yang pernah dijadikan sebagai Kantor Bappeda Aceh Timur tersebut, kini telah dikosongkan dan rencananya akan diubah menjadi museum. Pemerintah setempat juga telah mendaftarkan bangunan klasik ini sebagai situs cagar budaya agar diakui oleh kementrian terkait. Berdiri megah di tengah Kota Langsa, bangunan ini seolah menjadi landmark dari kota yang berada di wilayah Aceh bagian timur tersebut.

Pesona Gedung Balee Juang

Seperti pada bangunan peninggalan Belanda lainnya, Gedung Balee Juang memiliki arsitektur khas Belanda yang menarik. Dinding berwarna putih mendominasi pada sebagian besar bangunan, yang hingga kini masih dipertahankan. Bentuk asli bangunan pun masih terjaga, dan tak diubah demi mempertahankan nuansa klasik dari gedung.

Konon ketika Belanda datang ke Kota Langsa untuk pertama kalinya, mereka berhasil merebut kota ini dan menjadikannya sebagai basis pemerintahan di Aceh. Belanda membangun gedung ini, sebagai kantor perusahaan perkebunan dan markas Belanda. Hasil-hasil bumi dari Kota Langsa, sebelum diangkut ke Belanda dikumpulkan serta didata terlebih dulu di Gedung Balee Juang ini.

Gedung Balee Juang

Sebelum dikenal sebagai Gedung Balee Juang, bangunan ini dinamai oleh Belanda Het Kantoorgebouw Der Atjehsche Handel-Maatschappij Te Langsar. Kala itu, gedung ini juga sempat digunakan sebagai kantor percetakan uang yang dikenal dengan “bon kontan” bernilai Rp. 100. Ketika Belanda menyerah kepada Jepang, gedung ini pun diambil alih dan digunakan oleh tentara Jepang sebagai markas.

Perusahaan perkebunan tersebut pun terpaksa dipindahkan ke negara asalnya yaitu Belanda. Didalam gedung ini, konon terdapat sebuah lorong bawah tanah yang besarnya hanya seukuran tubuh manusia. Lorong ini dipercaya menghubungkan pada suatu tempat lain, dan memiliki kisah-kisah mistis yang menyelimutinya. Namun pintu lorong tersebut digembok, dan kuncinya pun telah hilang.

Gedung Balee Juang merupakan bangunan bertingkat dua, serta memiliki gaya arsitektur Belanda yang bisa dilihat dari bentuk pintu yang tinggi besar berteralis, jendela-jendela, serta tiang-tiang besar nan kokoh. Wisatawan juga bisa melihat, atap gedung ini berbentuk runcing dan pada lantai dua terdapat balkon-balkon.

Pada halaman luar Gedung Balee Juang, terdapat sebuah air mancur yang berhiaskan tanaman air serta dinding berukirkan relief. Relief tersebut menggambarkan penjajahan Belanda yang kala itu memaksa rakyat Aceh kerja rodi, serta perlawanan rakyat Aceh untuk meraih kemerdekaan Indonesia. Relief ini berwarna emas, sehingga nampak cantik dan indah.

Pemerintah Kota Langsa berencana mengubah bangunan bersejarah ini sebagai museum. Didalamnya sudah terdapat berbagai koleksi meskipun masih bisa dihitung dengan jari. Terdapat beberapa kisah sejarah seperti masa VOC, dan kisah-kisah pahlawan. Semoga, rencana ini segera terealisasi agar generasi penerus bisa mengenang dan belajar lebih jauh tentang sejarah Kota Langsa.

Fasilitas Gedung Balee Juang

Gedung Balee Juang juga telah dilengkapi berbagai fasilitas yang cukup memadai, pada bangunan ini terdapat fasilitas seperti toilet, tempat parkir yang luas, dan juga tempat sampah. Jika ingin beribadah wisatawan bisa menuju ke Masjid Raya Kota Langsa yang tak jauh dari lokasi.

Di gedung juga memiliki penjaga, sehingga jika kamu berkunjung kamu bisa mendapatkan informasi tentang sejarah gedung dan fungsinya dimasa lalu. Disekitar gedung, kamu bisa menemukan dengan mudah pedagang-pedagang yang menawarkan kuliner serta jajanan. Selain itu, terdapat pula café dan restoran yang bisa kamu tuju untuk mengobati rasa lapar.

Jika ingin menginap, Kota Langsa juga menawarkan berbagai pilihan hotel dan penginapan yang bisa kamu gunakan untuk bermalam. Apabila kamu berada di Kota Langsa, gedung ini bisa menjadi alternatif wisata yang bisa kamu kunjungi. Berikut beberapa kegiatan yang bisa kamu lakukan ketika berada di Gedung Balee Juang.

Wisata Sejarah

Seperti semboyan yang pernah diungkapkan Presiden Soekarno, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak akan pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Sebagai generasi penerus bangsa, maka tiada salahnya kita berkunjung ke tempat-tempat bersejarah untuk mengenang perjuangan Indonesia meraih kemerdekaan.

Ya, dengan berkunjung ke Gedung Balee Juang ini kamu akan dibawa kembali untuk mengenang sejarah dimasa lampau. Gedung ini merupakan simbol dari Kota Langsa, atas perjuangan mengusir Belanda. Didalamnya kamu akan menemukan berbagai koleksi, yang menceritakan perjalalan Kota Langsa di masa lampau. Terlebih lagi, jika kamu mencintai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah maka tempat ini wajib untuk kamu kunjungi.

Menikmati Keindahan Gedung

Ketika kamu berkunjung ke Gedung Balee Juang, kamu juga bisa menikmati keindahan arsitektur yang ditawarkan bangunan peninggalan Belanda ini. Tak hanya memiliki nilai sejarah, pesona arsitektur yang memukau memang menjadi daya tarik utama dari bangunan tersebut. Kamu bisa melihat pintu-pintu yang besar dan tinggi serta berteralis, serta berhiaskan ukir-ukiran.

Bentuk bangunan pun masih dipertahankan, dan renovasi yang dilakukan juga sangat hati-hati agar tidak menghilangkan keaslian dari bangunan. Kamu bisa naik ke lantai dua, dan menuju ke balkon untuk melihat pemandangan sekitar Kota Langsa.

Hunting Foto

Keindahan arsitektur bangunan Gedung Balee Juang, juga mengundang para pecinta fotografi untuk mengabadikannya. Tak jarang, akan dijumpai fotografer yang memotret disekitar gedung ini. Unik dan menarik, itulah kesan yang ditawarkan bangunan berarsitektur Belanda ini. Kamu pun bisa memotret disini, terdapat banyak sekali objek yang bisa kamu bidik dengan kamera.

Tempat wisata ini juga menjadi buruan bagi para pasangan yang hendak melakukan sesi foto prewedding. Tak hanya memiliki nilai seni, tetapi nilai sejarah yang terkandung didalamnya menjadi daya tarik tersendiri bagi gedung ini.

READ MORE

Hutan Mangrove Langsa Aceh, Wisata Alam Berskala Dunia

Hutan Mangrove Langsa Aceh, Wisata Alam Berskala Dunia

Hutan Mangrove Langsa AcehSelain gunung, pantai, dan peninggalan budaya, Negeri Serambi Mekkah punya satu wisata alam yang tidak kalah menarik. Namanya Hutan Mangrove Langsa Aceh. Terletak di Kuala Langsa, taman ini disebut-sebut sudah berskala Internasional dan bahkan sudah sering dilirik wisatawan asing.

Lokasinya berjarak sekitar lima kilometer dari Kota Langsa. Pengunjung yang ingin datang kemari bisa menaiki kendaraan roda empat maupun dua, dengan melakukan perjalanan ke arah Pelabuhan Kuala Langsa. Atmosfernya di sini sangat menyenangkan dan cocok dijadikan sebagai tempat wisata keluarga.

Hutan Mangrove Terlengkap

Pemandangan Hutan Mangrove Langsa Aceh
Pemandangan Hutan Mangrove Langsa Aceh via Instagram marfira09

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, kawasan seluas delapan ribu hektar ini sering menjadi jujukan para peneliti Internasional. Sebab Hutan Mangrove Langsa Aceh disebut-sebut sebagai salah satu hutan mangrove dengan koleksi spesies terlengkap. Menurut catatan sebuah sumber, tak kurang dari 38 jenis mangrove ada di sini.

Menyusuri Hutan Mangrove Langsa Aceh cukup mengasyikkan. Pengunjung bakal diajak berjalan di atas jembatan kayu sembari melihat rimbunnya penghijauan di sekitar mereka. Tak perlu khawatir soal keamanan, karena di sini terdapat menara pengawas berisi petugas yang siap memantau keadaan dari ketinggian 10 meter.

Diminati Kawula Muda

Pengunjung wanita berfoto di Hutan Mangrove Langsa Aceh
Pengunjung wanita berfoto di Hutan Mangrove Langsa Aceh via Instagram shabrinashasa

Hutan Mangrove Langsa Aceh termasuk wisata yang diminati para kawula muda. Menjelang akhir pekan, banyak sekali remaja dan anak muda berkunjung ke sini. Selain indah, tiket masuknya juga murah meriah – hanya dua ribu lima ratus rupiah.

Namun demikian, semua pengunjung yang datang ke sini diwanti-wanti untuk tidak berbuat aneh-aneh. Apalagi jika hanya bermaksud masuk hutan dan bermesra-mesraan dengan pasangan kekasih. Untuk memastikan tidak ada yang melanggar, pengelola bahkan membuat papan peringatan khusus di sekitar hutan mangrove.

Asyik Untuk Selfie dan Foto-Foto

View Hutan Mangrove Langsa Aceh dari udara
View Hutan Mangrove Langsa Aceh dari udara via Instagram ptriazhri_26

Ada banyak spot apik untuk sekedar ber-selfie maupun mengambil foto-foto cantik di Hutan Mangrove Langsa Aceh. Umumnya titik yang menjadi favorit wisatawan adalah jembatan warna coklat melengkung yang berada di atas perairan. Saking indahnya, ada juga pasangan yang sesekali menjadikan tempat ini sebagai lokasi pre-wedding.

Spot favorit berikutnya adalah menara pengawas. Titik ini bisa dijumpai di tengah-tengah perjalanan menyusuri Hutan Mangrove Langsa Aceh. Jika berani menaiki tangga vertikalnya, kita akan disuguhkan pemandangan hutan mangrove dari ketinggian – indah dan menawan.

Berjumpa Dengan Monyet

Monyet di Hutan Mangrove Langsa
Monyet di Hutan Mangrove Langsa via Instagram rhinodesouza

Hutan Mangrove Langsa Aceh juga menjadi habitat bagi beberapa satwa lokal, seperti monyet, ular, biawak, ikan, udang, dan kepiting. Khusus untuk gerombolan monyet, mereka sesekali menampakkan diri pada pengunjung. Oleh karena itu disarankan tidak membawa makanan, barang berkilauan, atau benda lain yang bisa menarik perhatian monyet.

Sejauh ini masih belum ada insiden yang melibatkan monyet dan wisatawan di Hutan Mangrove Langsa Aceh. Namun sekedar berjaga-jaga tentu tidak ada salahnya.

Fasilitas Lengkap

Jembatan di Hutan Mangrove Langsa Aceh
Jembatan di Hutan Mangrove Langsa Aceh via Instagram syh.art

Sebagai salah satu destinasi ekowisata populer, Hutan Mangrove Langsa Aceh punya fasilitas cukup lengkap untuk memanjakan wisatawan. Di bagian terluar hutan, terdapat berbagai macam warung makan bagi yang ingin mengistirahatkan kaki sembari mengisi perut. Pilihannya pun beragam, mulai dari mie aceh hingga beragam seafood.

Hutan Mangrove Langsa buka setiap hari, namun perhatikan jam berkunjung. Pengelola mulai memberikan akses masuk pada pukul sembilan pagi dan tutup pada pukul enam sore. Menjelang maghrib, bakal ada peringatan pada semua wisatawan untuk segera meninggalkan lokasi.

Itulah tadi sekilas gambaran mengenai keindahan dan keiistimewaan Hutan Mangrove Langsa Aceh, salah satu destinasi ekowisata menarik di Aceh. Jika sedang berkesempatan mengunjungi Negeri Serambi Mekah, tak ada salahnya meluangkan waktu untuk datang ke lokasi ini.

READ MORE